Al-Mawardi dan Pemikiran Politiknya dalam Kitab Al-Ahkam As-Sulthoniyah (Bagian 1)

Penyusun : Firman Harianto

(Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro)

I. PENDAHULUAN

Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, yang lebih populer dengan nama M. Din Syamsuddin, mantan asisten Prof. Dr. Harun Nasution dalam mata kuliah Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin IAIN ( kini UIN ) Jakarta, dalam salah satu tulisannya yang disumbangkan untuk Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam : 70 Tahun Harun Nasution, menegaskan bahwa PEMIKIRAN POLITIK merupakan aspek yang “terlupakan” dalam “Sistem Pemikiran Islam”. Sebagai bagian integral dari pemikiran Islam (Islamic Thought,) pemikiran politik Islam perlu dikaji secara serius untuk menemukan Islamic Injunctions (  إسلامية تَعْلِيمات   )  bagi pemecahan problematika politik ummat Islam.

Karena itu, dalam konteks dorongan akademis / intelektual pak Din di atas, maka usulan ustadz Haris untuk mengkaji salah satu kitab terpenting dan terkenal tentang politik Islam yaitu al-Ahkaam as-Sulthoniyyahnya Imam Al-Mawardi, menemukan relevansinya. Saya pribadi kebetulan sejak lama menaruh minat terhadap kajian pemikiran Islam baik klasik maupun kontemporer seperti kalam/teologi, filsafat Islam, tasawuf, fikih dan tidak ketinggalan pemikiran politik Islam. Aliran-aliran pemikiran Islam kontemporer baik yang cenderung “terlalu ke Kiri” maupun “terlalu ke Kanan” tak luput dari minat dan perhatian saya untuk dikaji secara keilmuan dan “berkepala dingin”. Jauh dari sikap-sikap yang sekedar “reaksioner” tanpa pemahaman yang mendalam terhadap obyek yang dikritik.

II. MENGENAL SECARA RINGKAS SOSOK AL-MAWARDI

Nama lengkap Al-Mawardi adalah Abu Hasan ibn Muhammad ibn Habib al-Mawardi. Ia dilahirkan di Bashrah pada tahun 974 M dan meninggal di Bagdad pada tahun 1058 M. Dalam bidang aqidah, ia termasuk penganut faham Sunni, sedang dalam bidang fiqh, ia termasuk pengikut madzhab al-Syafi’at. Ia pernah menduduki jabatan qadli di berbagai daerah, yang pada gilirannya membawa beliau kepada jabatan tertinggi dalam peradilan dengan gelar Aqdla al-Qudlat, semacam hakim tinggi. Pada masa pemerintahan AL-Qaim Billah, salah seorang khalifah Bani Abbas, ia diangkat sebagai penasehat khalifah dalam bidang hukum Islam.

Al-Mawardi juga dikenal sebagai guru yang aktif mengajar bidang hadis dan tafsir al-Qur’an di kota Bashrah dan Baghdad. Al-Mawardi juga dikenal sebagai duta dan diplomat ulung yang pandai berdiplomasi yang bekerja bagi kepentingan kekhalifahan/pemerintahan  Abbasiyah. Karena kemampuan diplomasinya, Al-Mawardi sering sekali menyelesaikan sengketa amir-amir Buwaihiyah dengan pihak istana ( pemerintahan Abbasiyah ).

III. KANDUNGAN KITAB AL-AHKAM AS-SULTHONIYAH

Sebelum kita menyelami materi atau isi kandungan kitab Al-Ahkaam as-Sulthoniyah, perlu disinggung di sini bahwa saya sangat sependapat dengan pernyataan salah seorang pentahqiq kitab Al-Ahkaam as-Sulthoniyah yaitu Ahmad Jaad, bahwa seorang peneliti/pengkaji turots Islam klasik haruslah “netral” ( muhayid ) dan “adil”  ( munshif ). Ia harus menyadari akan konteks zaman ( siyaq zamani ) dan masa ketika karya intelektual itu ditulis. Seorang pengkaji turots Islam klasik juga tidak boleh “terlalu berpihak” (tahayyuz) atau melontarkan tuduhan palsu ( tajanni ). Sebab menurut pengamatan dan pengalaman Ahmad Jaad seringkali ditemukan para peneliti yang memandang semua hal ( baca : turots / karya intelektual ) yang klasik adalah benar. Mereka sering terjebak “memuji-muji” sang pengarang dan berupaya menunjukkan kebenaran setiap apa yang disampaikan sang penulis di dalam kitabnya. Sementara  ada kelompok pengkaji lain yang biasa menamakan diri mereka sebagai propagandis modernitas dan kemajuan mengerahkan segenap kemampuannya untuk mendistorsi/menyalahartikan ( tasywiih) segala hal (turots) yang klasik sebagai “keterbelakangan” ( takholluf) dan kedangkalan ( sathhiyyah) serta tidak sesuai dengan perkembangan zaman ! BERSAMBUNG

Please Share
Category: KajianTags:
author
No Response

Leave a reply "Al-Mawardi dan Pemikiran Politiknya dalam Kitab Al-Ahkam As-Sulthoniyah (Bagian 1)"