Isra’ Mi’raj dalan term Sains

M. Yazid Mar'i
M. Yazid Mar’i

Oleh: M. Yazid Mar’i

Bulan Rajab, satu bulan dari 12 bulah di tahun hijriyah, merupakan bulan istimewa bagi peletak dasar perkembangan sains. Peristiwa Isra’ yaitu perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram Makkah ke Masjidil Aqsa Palestina yang kemudian dilanjutkan dengan Mi’raj, yaitu perjalanan Beliau dari Masjidil Aqsa ke sidratul muntaha atau langit tertinggi, yang keduanya ditempuh dalam satu malam.

Dalam kontek tauhid tentu merupakan satu kisah yang diawal peristiwa ini, bisa disebut sebagai ujian tauhid kaum muslimin, mengapa? Peristiwa yang secara ilmiah tidak mampu dibuktikan oleh akal pikiran, tentunya dibutuhkan penerimaan melalui keyakinan. Keyakinan yang bagaimana? Tentu keyakinan tentang Tuhan sebagai Rab yang Maha Qodir, Maha Kuasa atas segala ciptaannya. Sebagaimana yang telah Allah jelaskan dalam surat al isra’ yang artinya: Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang Kami berkahi sekelilingnya untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaanNya. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat”.

Ayat ini tentu melahirkan sebuah perdebatan, pertanyaan, antara mungkin dan tidak mungkin. Namun bukankah apa yang Allah fimankan adalah “haq”, suatu kebenaran mutlak? Maka seorang mukmin tentu harus juga mempercayainya dengan kemutlakan. Karena bukankah Dia yang menjadikan mahluk, dan Dialah yang bekehendak atas mahlukNya?

Ini sama halnya ketika kita memiliki suatu benda, dan kita menghendaki sesuatu terhadap benda itu, maka tentulah benda itu akan mengikuti kehendak kita dengan mutlak. Ketika kita memiliki jam tangan yang dalam sehari semalam terhitung 24 jam, namun kita cukup membutuhkan waktu beberapa detik untuk mencapai hitungan 24 jam. Adalah logika tauhid terhadap peristiwa isra’ mi’raj. Lebih-lebih ketika ayat tersebut diawali dengan Maha Suci Allah, tentu sebuah peristiwa luar biasa yang ingin Tuhan tunjukkan kepada hambanya, sekaligus menguji hambaNya tetap iman atau kufur.

Addinu huwal aqlu la dinna liman la aqlalahu, agama itu akal, maka tidak ada agama bagi mereka yang tiada berakal. Disinilah peristiwa isra mi’ raj bagai sebuah tantangan Allah, agar umat islam senantiasa “iqra’ dan bil qolam”, membaca dan menulis untuk melihat, menganalisis, dan menemukan dari peritiwa yang dihadapinya, untuk kemudian melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Dan ini adalah keharusan mutlak, mengapa? Karena Rasul Muhammad diutus kedunia tidak lain kecuali untuk memberikan rahmat bagi seluruh alam, “wama arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamin.

Maka sungguh kehadiran islam ditengah-tengah kehidupan, tidak lain adalah untuk melanjutkan sejarah kehidupan, menciptakan kesejahteraan bagi kehidupan, sebagai bekal untuk kehidupan panjang ahirat.

Inilah alasan betapa peristiwa isra’ mi’raj adalah tidak lain sebagai motivasi, sebagai petunjuk awal akan keharusan perkembangan ilmu pengetahuan (sains), sains of islam the justic riel.

Admin
Author: Admin

Please Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *